Pendongkrak Karier Tim Sales - Gosbiz.com

Pendongkrak Karier Tim Sales

0

Suatu obrolan di antara sekelompok sales supervisor di tempat makan. Si A  berpendapat, kalau ingin kaya jangan jadi supervisor yang jujur—sedikit-sedikit kita perlu berbohong atau nakal. Namun, si B berpendapat lain. Katanya, janganlah kita berbohong, mendingan kita punya waktu lebih buat ngobyek saja—apakah produk yang sama atau yang beda dengan yang dijual. Lain lagi pandangan si C. Menurut dia, keduanya tidak baik, lebih baik kalau gaji kita sebegini, ya santai saja. Nanti kalau gaji kita naik kecil, semangatnya tambah sedikit, kalau kenaikan gajinya besar baru kita lebih tinggi memompa semangat. Lalu, si D mengatakan dengan santai bahwa kunci sukses naik pangkat adalah memakai ilmu berenang gaya katak. Rekan-rekan yang lain saling bertatapan bingung dan serentak bertanya, ”Apaan tuh ilmu berenang gaya katak?”

Friendly-Man-Businessman-Pop-Art-Retro-Style

Dengan santai dan lugas tanpa beban, si D menjelaskan, ”Kalian kan tahu, berenang gaya katak itu gerakan tangan dari tengah, dibuka lebar-lebar sambil sikut digerakkan untuk membuka dan memberikan tekanan ke kiri dan ke kanan (sambil memeragakan). Jadi, jangan toleransi sama orang  sekitar, kalau perlu sikut rekan/pesaing di sekitar kita. Gerakan kedua adalah seperti ini (memeragakan tendangan gerakan kaki). Artinya, orang yang di bawah perlulah sedikit kita ”tendang” agar jangan dekat-dekat kita. Sebab kalau dia sukses, bisa-bisa karier suksesnya menyalip kita. Kemudian, gerakan ketiga, berenang gaya katak adalah seperti ini (sambil memeragakan ambil nafas, kepala keluar dari air). Artinya, kita perlu  sedikit ”menjilat” atasan—kan atasan juga senang kalau kita puji-puji.

Mari kita renungkan dan bayangkan, kalau di dalam organisasi ada orang-orang dalam tim kita seperti mereka tadi, apa jadinya? Apakah kita termasuk salah satu yang berperilaku seperti itu? Hanya Anda yang tahu!

Setiap orang yang hidupnya bergantung pada gaji adalah seorang buruh. Kehidupannya banyak diperintah ketimbang memerintah, sekalipun jabatan tinggi. Mengapa para pejabat yang berkedudukan cukup baik tidak ikut-ikutan demonstrasi, membuat onar, bikin masalah perburuhan, dan ikut-ikutan sedikit menyerempet ke area politik untuk memperingati 1 Mei sebagai Hari Buruh? Karena, pasti jawabnya adalah mereka orang yang penuh dedikasi, berintegritas tinggi—lebih baik cari solusi daripada buat makar dan bikin masalah. Oleh karena itu, orang yang kariernya bagus tidak lagi disebut buruh, melainkan manajer atau direktur, sedangkan mereka yang kariernya bermasalah biasanya disebut sebagai buruh atau mendapat predikat sebagai tukang… (bikin onar/gosip/ngerumpi/protes/demo/dan seterusnya). Jika Anda seorang karyawan berkualitas, tunjukanlah!

Caranya sederhana, yaitu “do the best and be different”. Bangunlah karier Anda sampai ke titik ketika Anda layak memperolehnya dengan segala kompetensi yang dikontribusikan ke perusahaan, baik itu hard competence maupun soft competence. Pada akhirnya Anda akan dihormati dan dihargai tinggi sesuai dengan kontribusi serta dedikasi.

Ada beberapa tips yang dapat dibuat sebagai pegangan agar sukses  berkarier, yaitu:

Pertama, pastikan bukan nasib. Buang mental bahwa karier/jabatan/gaji  yang Anda peroleh saat ini karena nasib. Rasanya Tuhan sangat tidak adil kalau kita miskin karena nasib; kita gagal karena nasib; dan nasib itu adalah garis dan suratan dari Tuhan. Dia maha adil dan bijaksana. Semua tergantung kita yang diberi kesempatan untuk berkarya dengan mempergunakan segala pengetahuan, keahlian, semangat, dan mental. Maka itu, prinsipnya adalah sedikit berusaha sedikit berkat, banyak usaha maka akan banyak berkat.

Kedua, bekerja mandiri.Seorang yang sukses tidak selalu dalam kendali dan monitor yang ekstra ketat. Mereka bisa bekerja tanpa harus diawasi,  melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, berakhirnya tugas dan tanggung jawab tidak ditentukan oleh durasi waktu bekerja, namun  ditentukan tercapainya objektif yang diberikan. Maka, seorang pemimpin sejati lebih banyak unjuk prestasi ketimbang unjuk gigi.

“Pemimpin penjualan sejati selalu unjuk prestasi, tapi tidak pernah unjuk gigi.”

Ketiga, mental maju tak gentar membela yang bayar. Artinya, sadar akan status sebagai profesional yang diberi tanggung jawab, sadar betul siapa yang membayar–perusahaan dan pelanggannya. Maka, semboyan tadi selalu melekat hingga tingkatan di bawah ambang sadar. Jadi, barometer dan ukuran seorang yang hebat adalah tanggung jawabnya dalam menyelesaikan tugas saat menghadapi kesulitan dan tidak adanya pengawasan dari pimpinan.

Keempat, bersahaja tidak mengenal perilaku sok. Kalau kita amati, orang yang sering mendapatkan predikat “sok tahu”, pastilah orang yang banyak tidak tahunya, sok pintar; pastilah orang itu bodoh/tidak pintar, sok jaga image. Orang tersebut bukanlah orang yang berkarisma/tidak berwibawa. Untuk itulah tips yang keempat ini sangat penting. Akan  menjadi sempurna kalau pemimpin tim penjualan yang bersahaja dapat  berkomunikasi dengan bawahan dalam tingkatan mana pun, dengan pelanggan jenis apa pun.

Kelima, pastikan Anda dibayar bukan karena kompetensi. Banyak sekali  karyawan merasa value mereka (kompetensinya) tidak dihargai sesuai ekspektasinya, karena merasa tingkat pendidikannya di atas rata-rata rekan sejawat, pengalaman  banyak  baik  indikator  jumlah  perusahaan maupun lamanya bekerja, belum lagi jenis industrinya bervariatif. Perlu dicatat bahwa perusahaan yang baik dan manajemen yang sehat mengukur seseorang tidak atas indikator-indikator di atas, melainkan satu kata kunci bahwa Anda dibayar atas dasar kontribusi bukannya kompetensi, seberapa besar value nyata dan dirasakan oleh perusahaan atas jerih payah tadi!

Selamat berkarya!

Mindiarto Djugorahardjo, selling therapist

Share This Article

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.