Pieter Lydian – Kreativitas adalah Sebuah Value Added

www.marketing.co.id – Komputer adalah suatu teknologi yang sekarang sudah tidak asing lagi bagi kita. Dahulu, karena mahal sekali harganya, komputer merupakan salah satu barang mewah yang jarang sekali dimiliki orang. Saat itu, untuk memiliki sebuah PC (personal computer) seseorang harus merogoh kocek sebesar Rp 8–Rp 10 jutaan, dan pebisnis yang memerlukan satu unit laptop bisa mengeluarkan uang sampai Rp 30 jutaan.

Namun, seiring perkembangan zaman, harga komputer pun kini sudah bisa diajak kompromi. Tak ayal jika saat ini penggunaan komputer di Indonesia semakin hari semakin meningkat, mengingat pula peranan penting komputer dalam kehidupan sehari-hari. Suatu pekerjaan bisa lebih cepat selesai dengan bantuan teknologi komputer.

Melihat kebutuhan komputer dan potensi pasar, sejumlah perusahaan pun mulai terjun di bisnis elektronik ini. Beberapa pemain besar di antaranya Acer, Toshiba, Sony, Apple, dan lain-lain.

Satu lagi pemain besar di industri ini yang perkembangan perusahaannya kian pesat adalah Dell. Perusahaan yang memasarkan perangkat keras komputer ini diprakarsai oleh Michael Dell pada tahun 1984, ketika Michael Dell masih duduk di bangku kuliah di University of Texas, AS.

Di Indonesia, bisnis Dell semakin meroket, tepatnya saat mulai di-handle oleh pria bernama Pieter Lydian, yang sudah bergabung dengan Dell sejak tahun 2006 silam. Sosoknya yang ramah, periang, dan humble, membuat Pieter disenangi orang banyak, termasuk karyawannya sendiri. Pribadi yang low profile ini pun perlu ditengok. Dan untuk itu, pada edisi ini majalah MARKETING mendapat kesempatan untuk mewawancarai pria yang menjabat sebagai Director and Country Manager Dell Indonesia. Berikut petikan wawancara wartawati Merliyani Pertiwi dan fotografer Asep Toni K dengan Pieter Lydian.

Bagaimana Anda memulai perjalanan karier?

Sebelum menetapkan hati dan pilihan pada Dell, saya memang sudah meniti karier di dunia IT. Sebelum di Dell, saya bergabung di Berca Indonesia selama hampir 11 tahun, hingga akhirnya bertemu dengan Bapak Andreas, atasan saya di Dell. Beliau inilah yang mengajak saya untuk bergabung bersama Dell dengan iming-iming belajar dinamika bisnis di negara orang lain. Tepatnya pada Oktober 2006, saya pun memutuskan untuk bergabung dengan Dell.

Memang benar, selama hampir 1,5 tahun saya berkeliaran di Vietnam, Filipina, Pakistan, dan juga beberapa negara lainnya. Berbicara mengenai Dell sama artinya dengan berbicara mengenai bisnis di 28 negara. Sejak itulah saya merasa bahwa inilah mimpi saya sebenarnya, karier saya bisa berkembang.

Mengapa memilih dunia IT?

Saya lulusan Universitas Bina Nusantara, yang memang ranahnya adalah IT. Saat masih di bangku kuliah, saya pernah beberapa kali bekerja menjadi programmer, network engineer, lalu masuk ke group sales marketing area. Mungkin memang perjalanan karier saya sudah diarahkan ke ranah IT dan jiwa saya di sana terbentuk secara natural, hingga akhirnya saya menapakkan kaki di Dell Indonesia.

Bagaimana Anda melihat potensi IT di Indonesia?

Melihat tingkat kebutuhan dan tren serta fenomena perkembangan zaman sekarang ini, rasanya potensi pasar IT akan semakin besar dan tak pernah ada matinya. Pertama, tingkat penyerapan IT di Indonesia masih rendah, artinya banyak  sekali peluang untuk berkembang di kemudian hari. Contohnya saja, IT mendapat impact yang besar dari hasil serapan pendidikan yang 10 tahun terakhir ini kerap menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Kedua, IT tampil sebagai information literate di mana saat ini Indonesia menjadi pengguna terbesar jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Orang Indonesia seperti sudah terbiasa hidup dalam informasi yang ke depannya akan mampu men-drive tren di pasar. Saat ini saja, populasi Indonesia sekitar 237,5 juta penduduk. Kalau bisa meng-growth 10% saja, itu sama dengan satu negara Australia. Maka dari itu, menurut saya, Indonesia ke depannya akan menjadi pasar yang paling potensial dalam segala bidang industri, terlebih IT.

Bagaimana perkembangan perusahaan sejak Anda bergabung?

Dulu sebelum saya bergabung, awak karyawan Dell masih sedikit sekali. Kerjanya pun gila-gilaan, karyawan kerap pulang tengah malam, bahkan hingga dini hari. Namun sekarang, kinerja yang demikian memeras tenaga itu tak ada lagi seiring kemajuan Dell.

Perusahaan ini perkembangannya kian pesat. Kami melakukan transformasi yang tadinya hanya menjadi produsen pabrik komputer semata, kini mulai memperlebar usaha ke segala bidang, namun tetap konsisten di bisnis IT. Komputer yang kami produksi pun mesti mengikuti tren yang ada saat ini, di mana fungsi komputer sudah lebih kompleks, menjadi produktif dan interaktif.

Lalu, Dell juga berubah menjadi perusahaan solution yang artinya saat ini kami ingin menambah portofolio perusahaan agar lebih komplet, yakni dengan membeli 15 perusahaan di dua tahun terakhir ini. Kalau dulu kami hanya menjual barang sebagai produk, sekarang kami masih berusaha mengembangkan serta menciptakan value add dengan memperkuat jaringan support yang saat ini sudah tersebar di 222 kota di Indonesia dan di beberapa negara lainnya.

Karena tentu saja kami menginginkan bisnis kami ini growth-nya terus bergerak naik. Dalam menggapai hal tersebut, perlu ada segitiga yang dijaga dengan baik, yakni growth dan profitable. Jika ketiga hal tersebut berimbang, perusahaan bisa sustainable, karena saya mau 100 tahun lagi Dell masih ada dan masih dicari banyak orang.

Bagaimana cara Anda memimpin perusahaan dan apa model kepemimpinan  yang Anda terapkan?

Semua orang ada di bisnis karena adanya value. Value add bagi saya adalah sebuah kreativitas. Dimulai dari bagaimana kita membuat sebuah kebijakan, memimpin, dan membuat tim yang produktif, bagaimana cara kita bisa membuat dan menggerakkan tim ke arah dan tujuan yang kita mau. Menurut saya, hal-hal seperti itulah yang mestinya senantiasa dipikirkan dan diterapkan, dan tentu saja dibutuhkan pula leadership yang baik dan kuat.

Lalu, mengenai leadership, saya tak perlu jauh-jauh belajar ke negeri orang, cukup saja belajar dari sosok Bapak di negara kita, Ki Hajar Dewantara contohnya. “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Yang artinya, di depan memberi teladan, di tengah memberikan peran, dan di belakang memberikan dorongan. Kalau prinsip itu diterapkan, saya rasa, should be ok.

Leadership itu tidak lepas dari visi dan strategi yang semuanya saling terkait. Seorang leader harus punya visi yang kuat, merealisasikan mimpi yang prosesnya juga harus kuat. Visi itu adalah manifestasi dari sebuah rangkaian yang benar, saat mengeksekusi visi itulah leader bermain. Sementara dalam sisi management, leadership itu didukung oleh empat pilar utama, membuat policy, mengawasi eksekusi, evaluasi, dan intervensi. Dalam menjalankan keempat pilar tersebutlah leader harus bermain yang juga perlu disinkronisasikan dengan otak, hati, dan nyali yang kuat sebelum akhirnya making decision.

Kendala apa saja yang Anda temukan selama bergabung dengan Dell?

Kendala yang paling sering ditemukan adalah terkait dengan paradigma seseorang. Perubahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena pada dasarnya mengubah seseorang itu tidak bisa berlangsung dalam waktu singkat dan sifatnya konjungtural. Di mana-mana, perubahan yang paling sulit itu adalah mengubah pandangan, cara berpikir, atau yang biasa dikenal dengan istilah paradigma. Untuk mengubahnya, saya perlu perjuangan keras dan tentu saja atas kemauan pihak yang bersangkutan pula, dan saya tidak mau memaksa. Konteksnya, tentu dalam hal memandang dunia bisnis. Basically, semua orang pasti bisa berubah dalam hal apa pun, termasuk mengubah paradigmanya kalau mereka mau.

Apa filosofi hidup yang Anda pegang?

Sebelum berbicara mengenai filosofi, saya akan berbicara mengenai visi terlebih dahulu. Visi, menurut saya adalah bagaimana cara kita bermimpi dan merealisasikan mimpi tersebut. Visi ini bersifat long term oleh karenanya perlu dibuat dalam jangka panjang karena kita memiliki tujuan. Saya punya visi di Dell dan saya pun memiliki visi pribadi yang dalam artian tujuan hidup ke depannya.

Sementara mengenai filosofi hidup, saya selalu menjalankan apa yang sudah digariskan oleh Tuhan. Lakukan yang terbaik yang sudah digariskan oleh Tuhan. Selain itu, saya ini orang yang suka sekali berhadapan dengan banyak orang. Untuk Dell, saya pun berlaku demikian bahkan kadang saya bukan hanya menjual prouk sendiri melainkan ikut menjual diri saya. I’m a sales for life. Dunia marketing itu sangat menarik, bagaimana kita harus membuat sebuah jaringan jangka panjang dengan konsumen, yakni dengan melahirkan sebuah value creation. Dalam bekerja tentunya, saya selalu menjual ide-ide saya. Yes, I’m selling my ideas.

Apa kunci sukses Anda?

Kalau di tanya mengenai kunci kesuksesan, saya suka bingung harus menjawab apa. Mungkin hampir sama dengan bagaimana cara saya meniti karier saya, harus jungkir balik kerja keras, tekun, serta punya mimpi. Sebelum berbicara mengenai sukses, kita harus tahu apa definisi sukses itu sendiri. Bagi saya, sukses itu tawakal, pasrah, dan butuh kerja keras untuk pencapaiannya. Sukses itu seperti visi yang harus dipecahkan menjadi sesuatu yang bisa diukur. Saya contohkan, misalnya ada dua jenis jalan, yang satu adalah jalan yang mudah dilalui tetapi kompetisinya banyak dan yang satu lagi jalan yang kecil dan sulit dilalui, namun kompetisinya sedikit. Karena saya suka tantangan dan mencoba hal-hal yang baru, jadi saya memilih jalan yang kedua.

Dengan memilih jalan yang sempit, terjal dan berbatu itulah saya bisa dikatakan sukses. Selain itu, faktor lainnya adalah Tuhan dan keluarga. Kalau kita bisa hidup berimbang dengan selalu mengingat dan mengadu kepada Yang Di Atas serta selalu menjunjung keharmonisan keluarga, saya yakin kita bisa mencapai kesuksesan.

Lantas, apa proyeksi Anda ke depan pada Dell?

Target ke depan, Dell harus terus berkembang besar. Kami harus menghargai customer, agar customer pun menghargai value yang sudah kami buat. Kalau customer menghargai value tersebut, sudah pasti perusahaan akan besar sejauh bagaimana kami men-drive prosesnya. Selain itu, kami juga ingin Dell menjadi perusahaan yang tampil sebagai panutan, perusahaan yang integritasnya tinggi, menjaga janji-janjinya kepada customer, juga mampu memberikan value kepada seluruh masyarakat baik itu customer, pemegang saham, pemerintah, dan karyawan Dell sendiri.

One thought on “Pieter Lydian – Kreativitas adalah Sebuah Value Added

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.