www.marketing.co.id – Seiring dengan kemudahan mengakses internet, membuat semua kalangan dapat menemukan beragam informasi dengan mudah. Di antaranya adalah informasi seputar kuliner. Bila kita mengetik kata “kuliner”, “restoran”, atau jenis menu makanan tertentu di beragam situs pencari, maka sederet website yang menawarkan tempat makan dan menu makan akan muncul.

Kalau diperhatikan, fenomena “masuknya” bisnis kuliner di dunia internet belumlah terlalu lama. Apalagi, kemunculan situs-situs yang mengkhususkan diri dalam dunia kuliner. Mungkin baru berjalan sekitar lima tahun belakangan ini.

Menariknya, setelah bisnis kuliner ini marak, bisnis website kuliner juga mengalami pertumbuhan yang pesat. Beragam website kuliner ini, baik berupa blog pribadi dan website umum seolah berpacu menampilkan informasi tempat-tempat makan terunik, terenak, termurah, dan “ter-ter” lainnya.

Hebatnya, website-website dengan domain berbayar jauh mendominasi jumlahnya dibanding yang gratisan. Dengan begitu, setidaknya bisa disimpulkan bahwa mereka yang merancang website kuliner tidak sekadar menyalurkan hobi, tapi melihat ada sisi bisnis yang bisa digarap. Bahkan, ada juga yang membuatnya secara profesional, memiliki tim IT dan pencari data restoran, kafe, dan tempat hang out dengan sajian makanan-minuman yang menarik lainnya. Sebab bila jumlah pengakses suatu website kuliner banyak dan member-nya juga melimpah, berbagai merek produk tak segan memasang iklan.

Bagaimana dengan para pelaku bisnis kuliner menyikapi maraknya website kuliner? Dan, sejauh mana mereka bisa mengoptimalkan penggunaanya? Berikut petikan wawancara dengan Silih A. Wasesa, praktisi kehumasan dan penggiat dunia maya yang juga menyukai wisata kuliner.

Bisnis kuliner seperti mendapat media promosi murah via website, sejauh mana mereka bisa memanfaatkan sarana ini?

Sekalipun banyak bisnis kuliner yang sudah menggunakan website, tapi tidak sedikit yang masih bersifat pasif. Seperti halnya sebuah restoran, website pun perlu disosialisasikan. Perlu silaturahmi ke penghuni dunia maya lainnya. Sejauh ini, sudah banyak pengusaha kuliner yang tidak sedikit melebarkan jangkauan website-nya melalui sosial media. Dan, biasanya mereka yang sukses karena mau menjemput bola.

Apakah cocok untuk sarana atau menerapkan fungsi-fungsi kehumasan? Apa saja?

Sangat cocok. Selain murah, website memiliki banyak kemudahan untuk melakukan interaksi dengan konsumen ataupun pembeli potensial. Tentu saja, harus dilihat dulu demografi dan psikografi target marketnya. Karena tidak semuanya melek internet.

Tampilan sebaiknya hard sales atau lebih ke pencitraan? Mengapa?

Tampilan website justru harus memberikan kesempatan pengunjung untuk berinteraksi. Jadi, selain gambar yang membuat lapar, beri juga satu ikon yang bisa di-klik. Itu akan menciptakan interaksi yang baik dengan pengunjung website.

Seberapa efektif sarana ini untuk mendatangkan pengunjung?

Sejauh pengunjungnya memang melek internet, website pun menjadi efektif. Apalagi jika digabungkan antara kegiatan offline dan online. Hasilnya akan lebih dahsyat.

Apakah suatu website restoran juga bisa untuk menciptakan konsumen yang loyal?

Tentu bisa, sejauh website dikelola dengan menggunakan web 2.0, dimana konsumen bisa berinteraksi. Bahkan, kalau perlu menciptakan menu sendiri melalui website tersebut.

Seberapa besar efek yang akan timbul bila promosi di internet digabung dengan word of mouth?

Efek multiplikasinya sangat tinggi, karena penyebaran di internet jauh lebih cepat dibandingkan dengan offline. Hal ini mengingat, konsumen hanya memencet “ENTER”.

Seberapa besar kesadaran para pebisnis kuliner untuk merilis website sendiri?

Rasanya sudah sangat besar. Kita bisa lihat contoh komunitas TDA (Tangan di Atas) yang sangat getol memanfaatkan website untuk bisnis mereka, termasuk bisnis kuliner.

Apa saja yang masih menjadi kendala para pebisnis kuliner dalam berpromosi di internet?

Kesiapan dalam merespons. Tentu saja, komplain jadi lebih mudah bagi konsumen. Tapi, kalau tidak diantisipasi justru membuat kontra produktif. Kendala lainnya adalah tenaga kerja dedikatif yang harus mengelola website tersebut hingga mampu berinteraksi dengan konsumen secara aktif, dan membentuk emotional bonding. (Ign. Eko Adiwaluyo)

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.