Terapkan Konsep Limited Edition

iklan

Jatuh dan merugi dalam membangun usaha, tidak membuat Irma putus asa. Berkat kegigihannya, Irma pun bisa menggaungkan Norlive bukan hanya skala lokal, tapi juga internasional. Seperti apa kisahnya?

norlive02
Irma Wulansari, owner Norlive (Foto: Lia)

Apa yang didambakan seorang entrepreneur terhadap usahanya? Tentu saja brand awarenes yang melejit, merek yang bisa diterima dan bermanfaat bagi konsumen, serta yang paling penting adalah profit. Profit menjadi faktor penting, bahkan tidak jarang menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan seorang pengusaha. Padahal fakta yang ditemui tidaklah semudah itu.

Jatuh bangun dan merugi hakikatnya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari seorang pengusaha. Demikianlah filosofi yang diyakini Irma Wulan Sari dalam menjalankan roda bisnis. Brand asuhannya, Norlive untuk produk fashion pria, melalui proses yang lumayan panjang.

Berbicara entrepreneur, perempuan berambut pendek ini sudah bukan pemain baru di bidang wirausaha. Beberapa jenis usaha telah digelutinya, mulai dari bisnis kebaya, supplier, sampai akhirnya bisnis ritel pakaian. Irma sebelumnya menjabat manajer event di perusahaan periklanan. Perannya sebagai supplier memungkinkan dia untuk menjalin relasi bisnis dengan banyak pihak termasuk vendor. Irma pun melihat banyak peluang usaha di sana.

Berpulangnya sang ibu menghadap Tuhan menjadi titik balik dalam hidup Irma hingga akhirnya memutuskan berwirausaha. Akhirnya pada tahun 2007, ia mulai coba-coba membuat sebuah konveksi di daerah Baturaja, Bandung. Irma menyuplai pengadaan seragam untuk korporat dalam skala yang besar. Namun sayang potensi besar tersebut sifatnya seasonal.

“Sebetulnya order banyak, tapi kadang ada, kadang tidak ada sama sekali. Sementara semua penjahit saya adalah karyawan tetap. Nah, di sini saya berpikir harus melakukan sesuatu untuk tetap membuat mereka produktif,” ungkap Irma saat disambangi di kantor Norlive di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Alhasil setelah putar otak, ia memutuskan membuat kemeja pria yang bisa dijual secara ritel. Irma bertutur, kala itu modal yang dimiliki hanyalah sebesar Rp15 juta. Kemeja pria dan segmen fashion pria ia pilih dengan alasan simpel dalam pembuatan dan tidak terlalu keruh pasarnya. Kemudian, kemeja-kemeja tersebut ia mulai pasarkan di Jakarta. Meski dibuat di Bandung, Irma memilih untuk tidak menjual produknya di Bandung.

“Norlive lebih menyasar konsumen pria dewasa, pekerja kantoran yang formil dalam berbusana. Hal tersebut lebih banyak potensinya di Jakarta ketimbang di Bandung yang dominan mahasiswa,” ujarnya.

Soal distribusi, Irma memilih memasarkan ke konsumen melalui jalur online baik secara internal lewat Instagram dan web, maupun secara eksternal berupa kerja sama dengan online strore semisal Lazada, dan lainnya. Selain jalur online, produk fashion kasual ini juga bisa dijumpai konsumen melalui ajang-ajang bazar maupun pameran-pameran terkemuka di beberapa kota di Tanah Air.

norlive

Sebagai pembuka di tahun 2013, outlet pertama di FX, Senayan, menjadi gerai perdana Norlive. Pemasaran melalui jalur toko fisik ini terus berkembang dan menjadi salah satu brand di toko fashion internasional Debenhams, Senayan City, serta Blossom Factory Outlet yang berlokasi di beberapa kota besar di Pulau Jawa.

Meski jumlah produksinya massal, Irma tetap menerapkan konsep limited edition. Artinya, dari setiap pakaian yang dikeluarkan jumlahnya dibatasi maksimal 80 piece saja. Hal ini, menurutnya, untuk mencegah konsep pasaran dan tetap menjadikan brand-nya eksklusif.

Selama 5 tahun berdiri, sejak tahun 2011 hingga sekarang, Norlive sudah menghasilkan lebih dari 1.000 jenis desain (karakter) pakaian. Harga koleksi Norlive berada di rentang Rp250.000 sampai Rp400.000. Namun dari sisi desain dan kualitas produk, Irma menjanjikan Norlive berani bersaing dengan produk-produk luar yang harganya di sekitaran Rp1 juta. Hingga kini omzet yang ia raih bisa mencapai Rp100 juta dengan kapasitas produksi 400 potong pakaian per bulan.

“Memang selama ini orang tahunya pengusaha itu selalu untung. Padahal ada juga ruginya, ditipu, dan pengalaman kurang menyenangkan lainnya. Tapi, harus tetap optimistis sebagai pemimpin karena ada karyawan, ada investor, klien, dan sebagainya. Apalagi saya juga tidak punya basic fashion sama sekali. Semuanya saya pelajari secara otodidak, sambil jalan hingga sekarang,” ujar perempuan yang mengaku urung menyelesaikan kuliahnya ini.

Siap Go International Lewat Pameran di Swiss

Kerja keras Irma selama lima tahun berkarya dan belajar menggeluti bisnisnya melalui Norlive berbuah manis. Sebuah tawaran menjanjikan datang kepadanya untuk memamerkan Norlive di etalase bergengsi Indonesia Display Warehouse di Basel, Swiss. Rencananya pameran ini dihelat pada awal Desember 2016.

Selain tampil di Basel, Swiss, Norlive berencana menggandeng beberapa investor strategis untuk menambah kapasitas produksi dan penambahan gerai.

“Misi ideal Norlive dalam rangka mengembangkan pasar domestik dan mancanegara di industri fashion, menurut Irma, juga dilandasi dengan keinginan Norlive untuk turut berkontribusi lebih jauh dalam mendukung program ekonomi kreatif dari Pemerintah Indonesia.

Angelina Merlyana Ladjar

 

“Meski jumlah produksinya massal, Irma tetap menerapkan konsep limited edition. Artinya, dari setiap pakaian yang dikeluarkan jumlahnya dibatasi maksimal 80 piece saja. Hal ini, menurutnya, untuk mencegah konsep pasaran dan tetap menjadikan brand-nya eksklusif.”

iklan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.